Senin, 24 Oktober 2016

Pengertian dan Penyimpulan

PENGERTIAN
1.       Pengeretian merupakan bagian, unsur dari keputusan

1.1   Pengertian
Kegitan akal budi yang pertama adalah menangkap sesuatu sebagaimana adanya. Mengerti berarti menangkap inti sesuatu. Inti sesuatu itu adalah dapat dibentuk oleh akal budi. Yang di bentuk itu adalah suatu gambaran yang ‘ideal’, atau suatu ‘konsep’ tentang sesuatu. Karena itu pengertian adalah suatu gambar akal budi yang abstrak, yang batiniah, tentang inti sesuatu.

1.2   Kata
Berpikir terjadi dengan menggunakan kata-kata akal budi. Kita menggunakan kata-kata, kalau kita ingin menyatakan apa yang kita pikirkan. Kata adalah tanda lahiriah (ucapan suara yang diartikulasikan atau tanda yang tertulis) untuk menyatakan pengertian dan barangnya.
Obyek logika disini hanyalah bunyi-bunyi atau tanda-tanda yang berarti (= kata-kata yang merupakan tanda atau pernyataan pikiran dan sesuatu yang dinyatakan dengan pengertian)
Contoh : “Anjing makan tikus” apa yang di ungkapkan dalam pernyataan itu adalah : baik pengertianya maupun bendanya yang konkret.

1.3   Term
Pengertian (kata) juga dapat diselidiki dari sudut yang lain. Sudut yang lain adalah fungsinya dalam suatu keputusan (kalimat) atau sebagai unsur dari padanya. Yang dipentingkan adalah pengertian-pengertian yang berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatua keputusan.
Term adalah kata atau rangkaian kata yang berfungsi sebagai atau predikat dalam suatu kalimat. Contoh : ‘anjing itu tidur’. Anjing itu adalah subyek kalimat ; tidur adalah predikat kalimat.
Setiap term bisa berupa tunggal atau majemuk
a.       Term Tunggal
Kalau hanya terdiri dari satu kata saja.
Misalnya; binatang, membeli, mahal, kuda dll.

b.      Term Majemuk
Kalau terdiri dari dua atau tiga kata. Dua atau tiga kata menunjukan suatu keseluruhan, menunjukan satu benda dan berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu kalimat.
Misalnya ; Jam dinding itu mati, lapangan bola kaki penuh rumput dll.



2.       Isi dan luas Pengertian

Isi sering disebut komprehensi, sedangkan luas sering dsebut ekstensi.
Isi suatu pengertian hendaknya dicari dalam inti pengertian itu, sedangkan luasnya hendaknya dicari dalam benda atau hal mana yang di tunjukan dengan pengertian itu

2.1   Tetapi apakah isi pengertian itu? Isi pengertian adalah semua unsur yang termuat dalam suatu pengertian, isi pengertian dapat di temukan dengan menjawab penyataan : manakah bagia-bagian (unsur-unsur) suatu pengertian yang tertntu? Unsur-unsur itu meliputi semua unsur pokok, unsur hakiki, serta semua unsur yang langsung dapat diturunkan dari unsur pokok itu.
Unsur pokok, hakiki adalah unsur yang menunjukan inti sesuatu. Kita ambil pengertian ‘manusia’, misalnya ; pengertian ‘manusia’ itu mengandung unsur-unsur pokok, seperti berada, material, berbadan, hidup, dapat berbicara, makhluk social dll. Tetapi pengertian ‘manusia’ itu tidak mengandung unsur-unsur, seperti berkulit hitam, berkebangsaan Indonesia, berambut keriting dll.
 Luas pengertian adalah benda-benda (lingkungan realitas) yang dapat dinyatakan oleh               pengertian yang tertentu. Penyelidikan yang teliti menunjukan bahwa :
1.       Setiap pengertian mempunyai daerahnya sendiri.
Contoh : Pengertian ‘kuda’ menunjukan hanya semua makhluk (hewan) yang tertentu yang dinyatakan oleh pengertian itu bukan makhluk (hewan) lainya.
2.       Pengertian-pengertian itu juga tidak sama luasnya.
Contoh : Pengertian ‘hewan’ lebih luas daripada pengertian ‘kuda’, sedangkan pengertian ‘kuda’ lebih sempit. Dengan ini pengertian ‘kuda’ merupakan bawahan dari pengertian ‘hewan’.
                          Ada dua macam luas pengertian :
1.       Luas yang mutlak
Adalah luas pengertian terlepas dari fungsinya dalam kalimat.
2.       Luas fungsional
Adalah luas pengertian yang dilihat dari sudut fungsinya dalam kalimat.
Luas pengertian dilihat dari fungsinya sebagai subyek atau predikat dalam kalimat tertentu.
3.  Pembagian kata-kata
                Kata, seperti sudah dikatakan, adalah pernyataan lahiriah dari pengertian.
3.1 Kalau di bagiakan menurut artinya, terdapatlah kata-kata :
1.       Unviok (sama suara, sama artinya)
Kata yang menunjukan pengertian yang sama pula.
Contoh : kata ‘anjing’ misal, hanya menunjukan pengertian yang dinyatakan oleh kata itu saja
2.       Ekuivok (sama suara, tetapi tidak sama artinya)
Kata yang menujukan penegrtian yang berlain-lain.
Contoh : kata ‘genting’ misal, menunjukan arti atap rumah, tetapi juga menunjukan sesuatu yang gawat.
3.       Analaog (sama suara, sedangkan artinya di satu pihak ada kesamaanya, dilain pihak ada perbedaanya)
Kata yang menunjukan banyak barang yang sama, tetapi serentak juga berbeda-beda dalam kesamaanya itu.
Contoh : kata ‘ada’ misal, kalau kata itu dikenankan pada hewan, maka manusia serta Tuhan,di satu pihank sama artinya. Tetapi di lain pihak tidak sama artinya.
3.2 Kalau dilihat dari sudut isinya, terdapatlah kata-kata :
1.       Abstrak
Yang menunjukan suatu bentuk atau sifat tanpa bendanya (misal, kemanusiaan, keindahan) dan konkret, yang menunjukan suatu benda dengan bentuk atau sifatnya (misal, manusia).
2.       Kolektif
Yang menunjukan suatu kelompok (misal, tentara) dan individual,yang menunjukan suatu individu saja (misal, Narto = nama seorang anggita tentara).
3.       Sederhana
Yang terdiri dari satu cirri saja (misal, kata ‘ada’ yang tidak dapat diuraikan lagi) dan jamak yang terdiri dari beberapa atau banyak cirri (misal, kata ‘manusia’ yang dapat di uraikan menjadi makhluk dan berbudi).
3.3 Menurut luasnya dapatlah dibedakan :
1.       Term Singular
Term ini dengan tegas menunjukan satu individu, barang atau golongan yang tertentu.
Misal, slamet, orang itu, kesebelasan itu, yang terpadai, dll
2.       Term Partikular
Term ini menunjukan hanya sebagian saja dari keseluruhan luasnya.
Misal, beberapa mahasiswa, kebanyakan orang, empat orang muda, dll.
3.       Term Universal
Term ini menunjukan seluruh lingkungan san bawahanya masing-masing, tanpa terkecualikan.
Misal, semua orang, setiap dosen ; kera adalah binatang, dll.



PENYIMPULAN
1. Penyimpulan adalah suatu kegiatan manusia yang terntentu. Dalam dan dengan kegiatan itu ia bergerak menuju ke pengetahuan yang baru, dari pengetahuan yang telah dimilikinyadan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya itu.
2. Macam-macam Penyimpulan
2.1 Dari sudut bagaimana terjadinya,kita menemuka :
1.       Penyimpulan yang langsung (secara intuitif)
Dalam penyimpula ini tidak diperlukan pembuktian-pembuktian. Secara langsung disimpulkan bhwa subyek (s) = predikat (p). hal ini terjadi pada azas-azas pemikiran, pembalik dan perlawanan, ekuivalensi (misal, tidak semua orang kurus = beberapa orang kurus) dan keputusan-keputusan langsung (misal, ini hijau, budi dsb)
2.       Penyimpulan yang tidak langsung
Penyimpulan ini diperoleh dengan menggunakan term-antara (M). dengan ter-antara diberikan alsan mengapa subyek (s) = predikat (P) atau subyek (s) tidak sama dengan predikat (p).
                2.2 Juga dapat dilihat dari sudut isi (benar) dan bentuk (lurus)nya. Kesimpulan pasti benar :
1.       Apabila premisnya benar dan tepat, hal ini adalah sudut material penyimpulan.
2.       Apabila jalan pemikiranya lurus
Artinya, hubungan antara premis dan kesimpulannya haruslah lurus dan inilah sudut formal suatu penyimpulan.
3. Sehubungan dengan ini baiklah diberikan hokum-hukum yang berlaku untuk segala macam     penyimpulan. Beginilah bunyinya :
1.       Jika premis –premis benar, maka kesimpulan juga benar
2.       Jika premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, tetapi dapat juga kebetulan benar
3.       Jika kesimpulan salah, maka premis-premis dapat salah
4.       Jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Dengan ini mau dikatakan bahwa :
1.       Jika premis premis benar, tetapi kesimpulan salah, maka jalan pikiranya tidak lurus
2.       Jika jalan pikiranya memang lurus, tetapi simpulanya tidak benar, maka premis-premisnya salah, dari salahnya kesimpulan dapat dibuktikan salahnya premis-premis.

4. Ketika perlawanan subaltern dibicarakn, kata ’induksi’ dan ‘deduksi’ sudah disinggung sebentar. Dekarang kita akanmenguraikan sedikit lebih khusus.
1.       Induksi
Adalah suatu proses tertentu, dalam prose situ akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang umum atau universaldari pengetahuan yang khusus atau particular.
2.       Deduksi
Sebaliknya, juga merupakan suatuproses tertentu, dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuanyang lebih khusus dari pengetahuan yang lebih umum.
3.       Induksi dan Deduksi selalu berdampingan
Keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. Induksi tidak dapat ada tanpa deduksi, deduksi selalu dijiwai oleh induksi. 

                               

 Nama : Jenny Stephanie Talan
NIM    : 705160200
Kelas   : D 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar